DEMK

BANDUNG, multikampus.itb.ac.id – Mahasiswa Teknik Bioenergi dan Kemurgi ITB, Arsyad Arif Novitrian dan Indah Patricia Suwandoro, menciptakan inovasi energi alternatif berupa bio-briket. Dengan memanfaatkan limbah organik yang melimpah di lingkungan kampus seperti daun kering dan serabut kelapa, mereka mengembangkan briket yang efisien, rendah asap, dan sepenuhnya dapat terurai (biodegradable).

Inovasi utama dari bio-briket ini terletak pada formulasi bahannya. “Kami menggabungkan dua bahan dengan karakter berbeda: daun kering yang cepat menyala dan serabut kelapa yang memiliki kadar lignin tinggi sehingga menghasilkan briket yang efisien,” kata Arsyad. Sebagai perekat, mereka menggunakan pati tapioka alami, memastikan produk ini 100% ramah lingkungan. Bahan baku utama berupa daun kering dikumpulkan dari area kampus ITB Jatinangor, sementara serabut kelapa berasal dari limbah rumah tangga.

Proses pembuatannya terdiri atas beberapa langkah sederhana. Limbah organik dikeringkan, lalu diubah menjadi arang melalui proses karbonisasi dalam kaleng tertutup. Arang tersebut kemudian dihaluskan, dicampur dengan perekat tapioka, dicetak secara manual, dan dikeringkan kembali selama 2-3 hari di bawah sinar matahari.

Keunggulan BioBriket ini antara lain:
• Mudah menyala berkat kandungan volatil dari daun kering.
• Durasi bakar lebih lama karena diperkuat struktur arang dari serabut kelapa.
• Asap dan bau yang dihasilkan lebih rendah dibandingkan pembakaran limbah biasa.
• Seluruhnya terbuat dari bahan terbarukan dan abunya dapat dijadikan pupuk.

Inovasi ini merupakan salah satu karya yang ditampilkan dalam pameran “ALICE: Abyanara’s Legendary Imagination, Creativity, and Enchantment“, sebuah aksi angkatan mahasiswa Teknik Bioenergi dan Kemurgi 2024. Pameran ini menjadi wadah untuk menunjukkan aplikasi nyata ilmu mereka dalam mengubah limbah menjadi produk bernilai.

Secara ekonomis, produk ini sangat potensial untuk menjadi solusi energi bagi rumah tangga maupun industri kecil. “Jika diproduksi massal, estimasi biaya bisa berada di kisaran Rp500-1.000 per briket, dengan harga jual di sekitar Rp1.500-2.000. Usaha ini masih menguntungkan sekaligus membantu pengelolaan limbah,” ungkap tim peneliti.

Tantangan utama yang dihadapi adalah menstandardisasi komposisi bahan baku dan proses pengeringan yang awalnya tidak konsisten. Ke depan, tim berencana melakukan pengujian nilai kalor dan emisi secara kuantitatif di laboratorium, menetapkan harga jual standar, serta bekerja sama dengan bank sampah dan UMKM lokal untuk mewujudkan model ekonomi sirkular.