Lompat ke konten utama

DEMK

BANDUNG, multikampus.itb.ac.id – Di tengah dinamika kehidupan akademik kampus, mahasiswa Unit Kesenian Minangkabau ITB (UKM-ITB) menghadirkan ruang pelestarian budaya melalui Pagelaran Seni Ca-UKM ITB 2025 yang digelar pada Minggu (10/5/2026). Kegiatan tersebut menjadi bagian dari proses Penerimaan Anggota Baru (PPAB) sekaligus wadah pembentukan karakter, penguatan kerja kolektif, dan pengenalan budaya Minangkabau kepada sivitas akademika ITB.

Pagelaran seni tersebut menampilkan berbagai pertunjukan budaya Minangkabau yang dipersiapkan langsung oleh calon anggota UKM-ITB 2025. Acara dibuka dengan sambutan dari ketua pelaksana, Ketua Angkatan Ca-UKM ITB 2025, serta Datuak UKM-ITB 2025/2026 sebelum dilanjutkan dengan pertunjukan seni dan hiburan budaya.

Ketua pelaksana, Fajri Akbar, menyampaikan bahwa pagelaran seni bukan sekadar ajang pertunjukan, melainkan bagian penting dari proses kaderisasi calon anggota UKM-ITB.

“Melalui proses latihan dan persiapan pertunjukan, para calon anggota belajar tentang tanggung jawab, kerja sama, komunikasi, serta bagaimana menghargai proses kolektif. Ini menjadi pengalaman pertama mereka untuk benar-benar menjadi bagian dari UKM-ITB,” ujarnya.

Ia menjelaskan bahwa proses persiapan pagelaran turut melatih berbagai soft skill mahasiswa, mulai dari disiplin, manajemen waktu, hingga adaptabilitas. Para calon anggota harus membagi waktu latihan di tengah padatnya aktivitas akademik ITB, sekaligus beradaptasi dengan seni dan budaya yang bagi sebagian peserta merupakan hal baru.

Tantangan persiapan juga semakin kompleks karena mahasiswa berasal dari kampus ITB Ganesha dan Jatinangor dengan jarak sekitar 22 kilometer. Kondisi tersebut membuat koordinasi latihan dan logistik menjadi tantangan tersendiri.

“Meskipun harus menempuh jarak cukup jauh dan menyesuaikan jadwal kuliah masing-masing, antusiasme teman-teman tetap tinggi. Saat geladi menjadi salah satu momen paling berkesan karena seluruh Ca-UKM dari Jatinangor hadir bersama di kampus Ganesha untuk mempersiapkan penampilan terbaik mereka,” katanya.

Sorotan utama pagelaran hadir melalui penampilan Tari Galombang Pasambahan yang dibawakan oleh 15 penari dan diiringi oleh 12 pemusik tradisional Minangkabau. Tarian tersebut merupakan tari penyambutan sakral khas Minangkabau yang sarat nilai penghormatan kepada tamu.

Tari Galombang Pasambahan dipilih karena menjadi dasar yang harus dikuasai sebelum mempelajari tarian Minangkabau lainnya. Selain itu, tarian tersebut dinilai merepresentasikan harmoni antara gerakan silat pada penari laki-laki, kelembutan gerak penari perempuan, serta kekuatan musik tradisional Minangkabau.

Melalui pagelaran tersebut, UKM-ITB juga ingin memperkenalkan berbagai unsur budaya Minangkabau kepada mahasiswa ITB, mulai dari seni tari, musik, pakaian adat, hingga semangat kebersamaan yang tumbuh dalam budaya perantau Minang.

Di tengah lingkungan kampus teknik dan sains, UKM-ITB memandang seni budaya sebagai bagian penting dalam pembentukan mahasiswa yang utuh. Kehadiran unit kesenian tradisional di ITB menjadi ruang bagi mahasiswa untuk berkembang tidak hanya secara akademik, tetapi juga secara sosial dan kultural.

“Teknologi dan budaya bukan sesuatu yang saling bertentangan. Justru di tengah perkembangan teknologi, akar budaya menjadi fondasi penting yang memberi makna pada kemajuan tersebut,” ujar Datuak UKM-ITB 2025/2026, Arlan Saputra.

Ia menambahkan bahwa UKM seni dan budaya juga menjadi ruang pembelajaran mengenai kecerdasan kolektif, kebersamaan, dan penghargaan terhadap keberagaman yang tidak selalu diperoleh di ruang kelas.

UKM-ITB tidak hanya diikuti oleh mahasiswa asal Sumatera Barat. Sejumlah anggota dari luar suku Minang juga turut mempelajari budaya Minangkabau melalui seni tari dan musik tradisional.

“Bagi banyak anggota, pengalaman ini menjadi cara untuk memahami keberagaman Indonesia secara langsung. Mereka belajar bahwa budaya bukanlah pagar yang membatasi, melainkan jembatan yang mempertemukan banyak orang,” ujar Arlan.

Pagelaran kemudian ditutup dengan penampilan lagu-lagu Minang dan lagu populer Indonesia yang semakin menghangatkan suasana kebersamaan antaranggota dan penonton.

Melalui kegiatan tersebut, UKM-ITB berharap generasi berikutnya tidak hanya mewarisi tarian dan pertunjukan seni, tetapi juga nilai-nilai kebersamaan, rasa hormat, serta kebanggaan terhadap budaya Indonesia yang terus relevan di tengah perkembangan zaman.

Institut Teknologi Bandung, Kemenkes, dan BMHS Perkuat Kolaborasi Pendidikan dan Riset Bedah Robotik
JAKARTA, multikampus.itb.ac.id — Institut Teknologi Bandung (ITB) melalui Fakultas Teknik Mesin dan Dirgantara (FTMD) memperkuat kolaborasi dengan Kementerian Kesehatan Republik...
Read More →
Berangkat dari Isu Limbah Tekstil, Tim SITH ITB Raih Medali Emas di National Essay EFC 2026
SEMARANG, multikampus.itb.ac.id – Tim TriPETase dari Sekolah Ilmu dan Teknologi Hayati (SITH) ITB berhasil meraih medali emas pada kategori Energi...
Read More →