Lompat ke konten utama

DEMK

YOGYAKARTA, multikampus.itb.ac.id — Tim mahasiswa Program Studi Teknik Geologi, Institut Teknologi Bandung (ITB), berhasil meraih Juara I dalam kompetisi Mineral Clash pada rangkaian GEODEFEST 2026 yang diselenggarakan oleh MGEI Student Chapter UPN “Veteran” Yogyakarta. Prestasi tersebut diraih oleh Tim “Duaduanya” yang beranggotakan Saifurrohman Ar Robbani (2023), Kelvin Andika Putra (2022), dan Rafi Shafwan Subiyanto (2022).

Mineral Clash merupakan kompetisi akademik yang berfokus pada bidang geologi ekonomi dan eksplorasi sumber daya mineral, khususnya Rare Earth Elements (REE) atau unsur tanah jarang. Kompetisi ini menguji pemahaman konseptual, kemampuan analisis, serta kerja sama tim mahasiswa bidang kebumian dari berbagai perguruan tinggi di Indonesia melalui beberapa tahapan perlombaan.

Bagi Tim “Duaduanya”, ketertarikan mengikuti kompetisi ini berawal dari tema REE yang dinilai relevan dengan perkembangan ilmu geologi dan isu eksplorasi sumber daya mineral saat ini. Format perlombaan yang berbentuk cerdas cermat juga menjadi kesempatan bagi mereka untuk memperdalam pemahaman terhadap materi secara lebih terarah.

Berawal dari Ketertarikan terhadap Rare Earth Elements
Saifurrohman mengatakan, tema REE menjadi salah satu alasan utama timnya tertarik mengikuti Mineral Clash. Menurutnya, topik tersebut memiliki keterkaitan erat dengan perkembangan dan tantangan eksplorasi sumber daya mineral saat ini.

“Kami melihat tema Rare Earth Elements sangat menarik karena berkaitan dengan isu yang saat ini banyak dibahas di bidang geologi. Lewat lomba ini kami ingin belajar lebih jauh mengenai topik tersebut,” ujarnya.

Persiapan dilakukan secara bertahap dengan menyesuaikan format kompetisi. Pada babak penyisihan, setiap anggota mempelajari silabus secara mandiri sebelum melakukan diskusi singkat menjelang perlombaan. Memasuki babak semifinal, waktu diskusi diperbanyak agar pemahaman terhadap materi dapat diperdalam.

Strategi yang lebih terarah diterapkan saat memasuki babak final. Tim membagi seluruh silabus berdasarkan topik sehingga setiap anggota dapat mendalami bidang tertentu.

Saifurrohman berfokus pada REE pada batubara, wilayah Mamuju, dan endapan karbonatit. Sementara itu, Rafi Shafwan Subiyanto mempelajari REE pada endapan laterit, placer, serta wilayah Sulawesi Selatan dan Kalimantan. Kelvin Andika Putra mendalami sistem hidrotermal, endapan yang berasosiasi dengan syenit, serta wilayah Sumatra.

Pembagian tersebut memungkinkan setiap anggota memiliki pemahaman yang lebih mendalam terhadap bidang masing-masing sekaligus membantu tim menguasai keseluruhan materi melalui kolaborasi.

“Kami tidak berusaha menghafal semua materi. Setiap orang benar-benar mendalami bidangnya masing-masing, kemudian saling percaya ketika kompetisi berlangsung. Dengan begitu, hampir seluruh silabus bisa kami kuasai,” jelas Saifurrohman.

Menyeimbangkan Persiapan Lomba dan Kesibukan Akademik

Persiapan menuju kompetisi juga menjadi tantangan tersendiri bagi Tim “Duaduanya”, terutama dalam membagi waktu dengan kegiatan akademik. Perbedaan angkatan membuat setiap anggota memiliki agenda yang berbeda.

Dua anggota dari angkatan 2022 sedang menyelesaikan tugas akhir dan menjalani kolokium. Sementara itu, anggota dari angkatan 2023 harus mempersiapkan sekaligus mengikuti ujian akhir semester.

Perbedaan jadwal tersebut bahkan membuat ketiganya tidak dapat berangkat menuju lokasi final secara bersamaan. Meski demikian, komunikasi yang baik dan manajemen waktu membantu mereka tetap menjalankan persiapan secara konsisten.

Bagi tim, diskusi tidak harus selalu berlangsung dalam waktu yang panjang. Selama setiap anggota dapat meluangkan waktu secara konsisten untuk mempelajari materi dan berdiskusi, persiapan tetap dapat berjalan secara efektif.

Selain memperdalam pengetahuan mengenai REE dan geologi ekonomi, kompetisi tersebut juga memberikan pengalaman bagi ketiga mahasiswa dalam membangun kerja sama tim.

“Pelajaran paling berharga bagi kami adalah pentingnya kerja sama dan saling memercayai. Dalam tim, setiap anggota memiliki keahlian pada topik yang berbeda, seperti batubara, nikel laterit, dan endapan epitermal. Kami belajar bahwa keberhasilan bukan berasal dari semua orang menguasai semua materi, tetapi dari kemampuan tim untuk saling melengkapi, percaya pada kompetensi masing-masing, dan bekerja sama dengan baik,” tutur Saifurrohman.

Bagi Tim “Duaduanya”, kepercayaan menjadi modal penting selama kompetisi berlangsung. Dengan pembagian fokus yang jelas, setiap anggota dapat mendalami bidang yang menjadi tanggung jawabnya dan mengandalkan kompetensi anggota lainnya.

Keberhasilan meraih Juara I Mineral Clash GEODEFEST 2026 pun menjadi pengalaman yang tidak hanya memperkaya pemahaman akademik mereka mengenai sumber daya mineral, tetapi juga memperkuat kemampuan bekerja sama dan membangun kepercayaan dalam sebuah tim.