BANDUNG, multikampus.itb.ac.id – Institut Teknologi Bandung (ITB) menghadirkan pengalaman kuliner yang berbeda melalui kegiatan Fine Dining Akulturasa yang digelar di Aula Timur ITB Kampus Ganesha, Jumat (19/6/2026) malam. Mengusung tema “Jamuan Nusantara: Gastronomi Sunda”, kegiatan ini menjadi ruang pertemuan antara sains, seni, budaya, dan kuliner yang dikemas dalam sebuah perjamuan gastronomi berbasis hasil riset.
Acara tersebut dihadiri oleh pimpinan ITB, mitra industri, alumni, akademisi, peneliti, mahasiswa, serta para pemangku kepentingan yang turut mendukung pengembangan riset dan inovasi di ITB.
Rektor ITB, Prof. Dr. Ir. Tatacipta Dirgantara, M.T., dalam sambutannya menyampaikan bahwa Akulturasa merupakan kegiatan baru yang diharapkan dapat menjadi wadah untuk memperlihatkan berbagai karya dan hasil riset yang lahir dari kolaborasi lintas disiplin.
“Kegiatan malam hari ini merupakan kolaborasi antara seni dan kuliner. Teknologi, seni, budaya, dan kuliner berkolaborasi menjadi satu acara yang unik,” ujarnya.
Ia menjelaskan bahwa berbagai karya yang ditampilkan dalam Akulturasa berawal dari riset dan proyek yang dikembangkan oleh mahasiswa bersama dosen dari berbagai fakultas dan sekolah di ITB. Menurutnya, kolaborasi lintas bidang tersebut mampu menghasilkan inovasi yang tidak hanya menarik secara akademik, tetapi juga relevan bagi masyarakat.
Pada kesempatan tersebut, para tamu disuguhi enam hidangan gastronomi Sunda yang merupakan hasil kurasi riset para peneliti ITB dan pengembangan kuliner bersama Tim Seroja. Setiap hidangan disertai narasi yang menjelaskan keterkaitannya dengan tradisi, pengetahuan lokal, serta inovasi pangan yang dikembangkan melalui pendekatan ilmiah.
Rangkaian menu yang disajikan meliputi Kadedems Rusip, Maung Ceurik Sriraca, Soup Waluh Madu Hakko Anko, Tilapia Gokar, Rekuh Gari, hingga Colenak Ubi Ungu sebagai hidangan penutup. Setiap sajian merepresentasikan perjalanan rasa yang terinspirasi dari siklus panen masyarakat Sunda dan transformasi bahan pangan lokal melalui sentuhan riset dan teknologi.
Dalam sambutannya, Rektor ITB juga menyoroti potensi besar kuliner Indonesia yang tidak hanya lezat dan menyehatkan, tetapi juga memiliki nilai ekonomi dan budaya yang dapat terus dikembangkan. Ia berharap berbagai hasil riset yang dipamerkan dan diperkenalkan melalui Akulturasa dapat menjadi sarana hilirisasi pengetahuan sekaligus mendorong lahirnya kekayaan intelektual baru dari lingkungan kampus.
Selain itu, ia mengapresiasi hadirnya platform digital yang dikembangkan secara mandiri oleh tim ITB untuk mendukung penyelenggaraan kegiatan tersebut. Menurutnya, hal tersebut menunjukkan kemampuan sivitas akademika ITB dalam membangun ekosistem inovasi yang semakin mandiri.
“Tujuannya bukan hanya sekadar pameran, tetapi bagaimana kita bersama-sama memberikan kontribusi dan merasakan manfaat dari kegiatan ini,” tuturnya.
Sementara itu, Direktur Utama BTN, Nixon L.P. Napitupulu, menyampaikan apresiasinya terhadap penyelenggaraan Akulturasa yang dinilai berhasil menghadirkan hasil riset dan karya mahasiswa ke tengah masyarakat melalui pendekatan yang kreatif dan mudah diterima publik.
Ia menilai bahwa pameran dan rangkaian kegiatan Akulturasa menunjukkan kuatnya budaya kolaborasi di ITB yang melibatkan berbagai disiplin ilmu, mulai dari seni, sains, teknologi, hingga bisnis.
“Luaran riset yang dihasilkan ITB sangat kaya. Kegiatan seperti ini menjadi wadah yang penting untuk memperkenalkan hasil riset kepada masyarakat sekaligus membuka ruang interaksi dan kolaborasi yang produktif,” ujarnya.
Menurutnya, kegiatan tersebut juga menjadi bukti nyata komitmen ITB dalam membangun ekosistem penelitian yang inklusif, adaptif, dan berdampak bagi masyarakat. Ia berharap Akulturasa dapat terus diselenggarakan secara berkelanjutan dan berkembang menjadi agenda tahunan yang semakin besar dengan melibatkan lebih banyak pihak dari luar kampus.
Fine Dining Akulturasa menjadi salah satu rangkaian kegiatan Akulturasa 2026 yang mempertemukan inovasi, kreativitas, dan kearifan lokal dalam satu pengalaman yang utuh. Melalui pendekatan gastronomi, para tamu tidak hanya menikmati hidangan, tetapi juga diajak memahami cerita, budaya, serta proses riset yang melatarbelakangi setiap sajian.
Kegiatan ini sekaligus menunjukkan bagaimana hasil riset dan kreativitas sivitas akademika ITB dapat diterjemahkan menjadi pengalaman yang bermakna, memperkuat kolaborasi lintas disiplin, serta memperkenalkan kekayaan kuliner Indonesia kepada khalayak yang lebih luas.





