BANDUNG, multikampus.itb.ac.id — Indonesia Chip Design Collaborative Center (ICDeC) menggelar Indonesia Semiconductor Summit 2026, pada Kamis-Jumat (29–30/1/2026) di ITB Innovation Park, Gedebage, Kota Bandung. Forum ini menjadi wadah strategis kolaborasi antara pemerintah, perguruan tinggi, industri, serta mitra internasional dalam memperkuat ekosistem semikonduktor nasional dan kaitannya dengan rantai nilai global (global value chain).
Indonesia Semiconductor Summit 2026 diselenggarakan sebagai respons atas penetapan industri semikonduktor dan kecerdasan artifisial sebagai salah satu pilar utama pembangunan ekonomi baru Indonesia.
Rektor ITB, Prof. Dr. Ir. Tatacipta Dirgantara, M.T., dalam sambutannya menegaskan komitmen ITB dalam pengembangan teknologi semikonduktor nasional dan penguatan kolaborasi lintas sektor. Ia mengatakan, kegiatan ini merupakan forum strategis dan menjadi komitmen bersama menempatkan industri semikonduktor sebagai penggerak ekonomi baru Indonesia.
ITB sendiri telah menjajaki dan mengembangkan teknologi semikonduktor sejak tahun 1986, yang ditandai dengan berdirinya Pusat Antar Universitas (PAU). Inisiatif tersebut menjadi pondasi penting bagi pengembangan keilmuan dan sumber daya manusia di bidang mikroelektronika nasional.
“Sebagai bentuk komitmen berkelanjutan, ITB telah berinvestasi dalam fasilitas clean room untuk mendukung pengembangan berbagai perangkat dan sistem mikroelektronika, baik untuk keperluan riset, pendidikan, maupun kolaborasi dengan industri,” tuturnya.
Dalam konteks semikonduktor, ITB secara aktif mendukung pembentukan Indonesia Chip Design Collaborative Center (ICDeC), sebuah inisiatif kolaboratif yang melibatkan 16 perguruan tinggi di Indonesia dan 7 industri, dengan dukungan dari berbagai kementerian dan lembaga negara. ICDeC diharapkan dapat menjadi wadah strategis untuk memperkuat kapasitas nasional di bidang chip design, pengembangan talenta, serta akselerasi riset menuju produk dan industri.
Sementara itu, Menteri Perindustrian Agus Gumiwang Kartasasmita mengatakan, Indonesia telah memiliki sejumlah elemen penting dalam ekosistem semikonduktor. Indonesia telah memiliki satu industri perakitan dan pengujian semikonduktor di Batam, serta satu perusahaan yang bergerak di bidang desain sirkuit terpadu (Integrated Circuit/IC). Selain itu, Indonesia memiliki ekosistem yang kuat di Electronic Manufacturing Services (EMS), didukung oleh Original Equipment Manufacturer (OEM), serta industri otomotif nasional yang berkembang. Hal tersebut menjadi penopang dan memperkuat ekosistem semikonduktor secara berkala.
“Kondisi ini menunjukkan bahwa Indonesia memiliki fondasi ekosistem yang dapat diperkuat melalui pendalaman industri hulu, penguatan desain, dan integrasi yang lebih erat dengan industri elektronik dan otomotif,” tuturnya.
Ia menyampaikan, nilai ekspor semikonduktor Indonesia juga meningkat dua kali lipat untuk tahun 2025. Hal ini menunjukkan capaian positif di bidang tersebut. Pemerintah pun telah menyusun roadmap ekosistem semikonduktor nasional mulai dari dua hingga 10 tahun yang dimulai dari material, desain, pabrikasi, lalu Assembly, Test, and Packaging (ATP).
Di sisi lain, Direktur Jenderal Riset dan Pengembangan Kemdiktisaintek, Fauzan Adziman, mengatakan talenta menjadi salah satu faktor kunci pengembangan industri strategis ini. Indonesia sendiri menghasilkan hampir 90.000 talenta per tahun dari berbagai bidang, yang berpotensi mendukung penguatan dan pengembangan ekosistem nasional.
“Hal yang diperlukan adalah bagaimana membangun ekosistem supaya terfokus pada bidang-bidang yang diperlukan (saat ini), baik dari bidang material dan desain,” tuturnya.
Wakil Menteri Luar Negeri, Arif Havas Oegroseno, mengatakan, industri ini sangat strategis secara global. “Kita perlu ada suatu kemandirian teknologi, salah satunya semikonduktor. Diharapkan dari sisi desain kita sudah bisa membuat sendiri, bisa digunakan secara nasional, dan bisa ekspor juga,” tuturnya.
Ia juga menyampaikan, Indonesia perlu bekerja sama dengan berbagai negara dan industri global supaya kemampuan chip design semakin luas, begitupun dengan sumber daya manusianya.
Ketua Indonesia Chip Design Collaborative Center, Prof. Trio Adiono, S.T., M.T., Ph.D., yang juga dosen dan peneliti ITB, menyampaikan, Indonesia memiliki tiga kekuatan untuk semikonduktor ini, yakni material, talenta, dan market. “Kita memiliki potensi produk yang dapat dipakai di market kita sendiri meskipun di global dibutuhkan. Untuk industri semikonduktor, tidak ada satu negara pun bisa berdiri sendiri. Dengan adanya kegiatan ini kita melihat bahwa Indonesia bisa untuk berintegrasi dengan global value chain,” ujarnya.
Melalui penyelenggaraan Indonesia Semiconductor Summit 2026, ITB menegaskan perannya sebagai simpul strategis kolaborasi riset, inovasi, dan pengembangan talenta semikonduktor nasional. Forum ini diharapkan dapat memperkuat sinergi lintas sektor serta mempercepat terwujudnya ekosistem industri semikonduktor Indonesia yang berdaya saing global dan berkelanjutan.



