BANDUNG, multikampus.itb.ac.id – Direktorat Kemitraan Institut Teknologi Bandung (ITB) menggelar ITB Cultural Day 2026, Sabtu (09/05/2026), di International Relation Office (IRO) ITB. Kegiatan tahunan ini sebagai wadah pertukaran budaya sekaligus proses adaptasi bagi para mahasiswa internasional yang tengah menempuh studi di ITB.
Wakil Rektor Bidang Komunikasi, Kemitraan, Kealumnian, dan Administrasi (WRKMAA) ITB, Dr. A. Rikrik Kusmara, S.Sn., M.Sn., mengapresiasi antusiasme peserta dan menegaskan komitmen ITB untuk memberikan pengalaman komprehensif bagi mahasiswa asing, baik melalui pendidikan akademik maupun pengenalan kekayaan budaya Indonesia.
Kepala Subdirektorat Mobilitas Internasional, Lia Amelia Tresna Wulan Asri, S.Si., M.Si., Ph.D., menjelaskan, agenda ini rutin dilaksanakan dua kali setahun. Tujuannya untuk memfasilitasi mahasiswa internasional yang tiba di semester berbeda agar mendapatkan kesempatan yang sama untuk mengenal lingkungan dan budaya lokal di awal masa studinya.
Ketua Pelaksana ITB Cultural Day 2026, Ihsan Hari Ramadani Muttaqin, menambahkan bahwa visi utama acara ini adalah sebagai wadah eksplorasi Nusantara. “Hari ini adalah tentang mengeksplorasi rasa, suara, dan warna Nusantara. Kita di sini bukan sekadar untuk menonton, melainkan untuk mengalami langsung kekayaan budaya tersebut,” ujarmya.
Dalam kegiatan ini turut ditampilkan Tari Ratoh Jaroe dari Unit Kebudayaan Aceh (UKA) ITB. Sinkronisasi gerakan yang penuh energi tersebut menjadi salah satu momen paling berkesan bagi para mahasiswa asing.
“Menonton Tari Ratoh Jaroe adalah momen paling mengesankan bagi saya karena saya bisa benar-benar fokus pada keindahan gerakannya,” ujar Donia, mahasiswa asal Mesir.
Pada sesi lokakarya, mahasiswa diajak terjun langsung dalam tiga kegiatan interaktif. Peserta belajar teknik membatik sebagai warisan budaya tak benda dunia serta mendalami sejarah seni khas Aceh bersama Unit Kesenian Aceh.
Selain itu, mereka juga belajar membuat kudapan tradisional klepon, mulai dari pengolahan bahan hingga teknik pengisian gula merah ke dalam adonan.
Sojeong Park, mahasiswa asal Korea Selatan yang sedang menempuh studi di Sekolah Bisnis dan Manajemen (SBM) ITB, mengaku, selain menikmati pertunjukan seni, ia merasa acara ini menjadi sarana penting untuk memperluas wawasan kebangsaan.
“Melalui kesempatan ini, saya bisa bertemu mahasiswa internasional dari berbagai latar belakang budaya sehingga saya bisa belajar mengenai keberagaman,” ujarnya.
Ia juga mengapresiasi kerja keras panitia karena menilai seluruh organisasi acara berlangsung dengan sangat teratur dan sistematis.
Acara ditutup dengan tarian Poco-poco sebagai simbol keharmonisan lintas budaya. Melalui kesuksesan penyelenggaraan ini, ITB terus mempererat hubungan antarbangsa dan menciptakan lingkungan kampus yang inklusif bagi komunitas global.




