Lompat ke konten utama

DEMK

BANDUNG – multikampus.itb.ac.id, Institut Teknologi Bandung (ITB) dan PT. Industri Baterai Indonesia (IBC) menandatangani Nota Kesepahaman pada Senin (20/7/2026) di Ruang Rapim A, Gedung Rektorat ITB. Hal ini sebagai langkah strategis untuk memperkuat kolaborasi dalam pengembangan teknologi baterai nasional.

Kolaborasi tersebut mencakup penelitian dan pengembangan (research and development/R&D) di bidang baterai, pendidikan serta pengembangan sumber daya manusia (SDM) dan kapasitas kompetensi, hingga berbagai bentuk sinergi lain yang mendukung penguatan kapabilitas di masa mendatang.

Mendorong Kolaborasi Riset Lintas Disiplin

Rektor ITB, Prof. Dr. Ir. Tatacipta Dirgantara, M.T., menyampaikan bahwa industri baterai merupakan salah satu sektor strategis yang akan berperan penting dalam mendukung transisi energi dan pembangunan industri nasional. Oleh karena itu, kolaborasi antara perguruan tinggi dan industri menjadi kunci untuk menghasilkan inovasi yang berdampak.

Menurutnya, ITB memiliki kapasitas riset yang komprehensif untuk mendukung pengembangan industri baterai, mulai dari aspek pertambangan sebagai penyedia bahan baku, proses kimia dan material, hingga rekayasa manufaktur, logistik, serta pabrikasi.

“Industri baterai merupakan sektor yang sangat strategis. ITB memiliki berbagai kompetensi lintas disiplin yang dapat berkolaborasi, mulai dari aspek hulu hingga hilir. Kami berharap kerja sama ini tidak berhenti pada penandatanganan dokumen, tetapi diwujudkan melalui berbagai program nyata yang memberikan manfaat bagi kedua belah pihak maupun bagi Indonesia,” ujar Rektor ITB.

Ia juga menekankan pentingnya model kolaborasi yang mengintegrasikan sumber daya perguruan tinggi, termasuk para peneliti serta mahasiswa pascasarjana, dengan kebutuhan industri sehingga proses pengembangan teknologi dapat berlangsung lebih cepat, efisien, dan berkelanjutan.

Menyiapkan SDM dan Teknologi Baterai Masa Depan
Sementara itu, Direktur Utama PT. Industri Baterai Indonesia, Dr. Eng. Aditya Farhan, menyampaikan bahwa penguatan kapasitas SDM dan kemampuan rekayasa (engineering) nasional menjadi salah satu prioritas utama agar Indonesia mampu bersaing di tengah pesatnya perkembangan industri baterai global.

“Kebutuhan industri tidak hanya terbatas pada keahlian teknik kimia, tetapi juga memerlukan kolaborasi berbagai disiplin ilmu untuk mendukung pengembangan teknologi baterai dari tahap riset hingga implementasi pada skala industri,” katanya.

Selain mengembangkan teknologi baterai berbasis lithium-ion dan lithium iron phosphate (LFP), PT. Industri Baterai Indonesia juga tengah mengarahkan fokus penelitian pada teknologi baterai generasi berikutnya, seperti sodium-ion batterysolid-state battery, serta energy storage system (ESS).

Dalam jangka panjang, PT. Industri Baterai Indonesia menargetkan pembentukan Center of Excellence atau Pusat Unggulan Teknologi Baterai bersama ITB dalam lima tahun mendatang. Pusat unggulan tersebut diharapkan menjadi wadah pengembangan riset, inovasi, serta penguatan SDM yang mampu mendukung visi Indonesia sebagai salah satu pusat pengembangan industri baterai dan sistem penyimpanan energi di tingkat global.