Skip to main content

DEMK

MALANG, multikampus.itb.ac.id — Empat mahasiswa Institut Teknologi Bandung (ITB) meraih Juara 1 ANTAM Hackathon 2026 melalui KUWERA (Knowledge-driven Unified Workbench for Evidence-based Risk-aware Analytics), platform berbasis kecerdasan buatan (AI) yang dikembangkan untuk membantu mempercepat analisis dalam eksplorasi mineral.

KUWERA dirancang untuk menjawab sejumlah persoalan dalam eksplorasi mineral, mulai dari data geologi yang tersebar di berbagai sumber, kompleksitas analisis wilayah dengan tutupan vegetasi lebat, hingga besarnya data yang harus dianalisis secara manual oleh geolog. Platform ini mengintegrasikan berbagai data eksplorasi dan memanfaatkan AI untuk membantu mengidentifikasi wilayah yang berpotensi memiliki mineral.

Solusi tersebut berpotensi mendukung geolog dan pelaku industri pertambangan dalam melakukan analisis serta menentukan wilayah prioritas eksplorasi secara lebih cepat dan berbasis data.

Tim AAA terdiri atas Muhamad Hasbullah Faris (Sistem dan Teknologi Informasi), Guntara Hambali (Teknik Informatika), Muh. Rusmin Nurwadin (Teknik Informatika), dan Putri Natasya Sabrina (Teknik Geologi). Mereka diumumkan sebagai Juara 1 ANTAM Hackathon 2026 pada Kamis (3/9/2026).

ANTAM Hackathon 2026 diselenggarakan bersamaan dengan Konvensi Mutu ANTAM sebagai wadah pengembangan solusi inovatif atas berbagai persoalan yang relevan dengan kebutuhan industri pertambangan. Peserta ditantang menghasilkan solusi berupa proposal, model, dasbor, purwarupa, maupun rancangan proses.

Kompetisi berlangsung dalam beberapa tahap, mulai dari seleksi proposal, penyisihan menjadi 10 tim terbaik yang diwajibkan menyertakan prototipe software, hingga babak final yang mempertemukan tiga tim terbaik untuk melakukan presentasi langsung di Grand Mercure, Malang.

ANTAM Hackathon 2026 memiliki tiga track, yakni eksplorasi, penambangan, dan pengolahan mineral. Tim AAA memilih track eksplorasi yang berfokus pada identifikasi wilayah prospektif. Pemilihan tersebut turut didukung latar belakang Putri sebagai mahasiswa Teknik Geologi yang memahami kebutuhan dan tantangan dalam proses eksplorasi mineral.

Menjawab Tiga Tantangan Eksplorasi

Dalam proses eksplorasi, geolog perlu mengolah berbagai jenis informasi, mulai dari data lapangan, remote sensing, hingga hasil laboratorium. Data tersebut dapat berasal dari sumber yang berbeda sehingga membutuhkan waktu untuk dikumpulkan dan diintegrasikan sebelum dianalisis.

Tantangan lainnya adalah kondisi geografis Indonesia. Tutupan hutan hujan tropis yang lebat dapat membatasi pengamatan langsung terhadap kondisi geologi permukaan. Selain itu, besarnya volume data membuat proses identifikasi wilayah prospektif membutuhkan analisis yang kompleks.

KUWERA dikembangkan untuk menjawab ketiga persoalan tersebut dalam satu platform. Pertama, sistem mengotomasi integrasi berbagai data geologi untuk mempercepat proses pengolahan dan analisis data.

Kedua, KUWERA memanfaatkan data geobotani, yakni pola tumbuhan yang dapat menjadi salah satu indikator adanya alterasi mineral di bawah permukaan. Dengan pendekatan tersebut, vegetasi tidak hanya dipandang sebagai hambatan pengamatan, tetapi juga dapat menjadi sumber informasi tambahan dalam analisis.

Ketiga, model AI dalam KUWERA digunakan untuk membantu memprediksi prospektivitas mineral berdasarkan kumpulan data yang tersedia. Hasil analisis tersebut dapat membantu geolog menyaring wilayah yang memerlukan perhatian lebih lanjut, sehingga pekerjaan tidak seluruhnya dilakukan secara manual.

Kolaborasi Lintas Disiplin sebagai Kunci

Selain gagasan yang ditawarkan, Tim AAA membawa KUWERA dalam bentuk aplikasi yang telah dapat didemonstrasikan kepada dewan juri.

“Aplikasi yang kita buat itu selesai dan bisa didemokan ke dewan juri,” ujar Guntara.

Tim mengembangkan dua antarmuka KUWERA, yakni dashboard berbasis web untuk analis yang bekerja di kantor dan aplikasi mobile untuk mendukung kebutuhan geolog di lapangan.

Dari sisi metodologi, tim juga menggunakan bootstrapping serta melakukan pengujian dengan data yang beragam untuk mengevaluasi model yang dikembangkan.

Menurut Guntara, kolaborasi lintas disiplin menjadi salah satu unsur penting dalam pengembangan KUWERA. Keahlian di bidang AI dan pengolahan data perlu dipadukan dengan pemahaman mengenai persoalan nyata di lapangan.

“Sebagai orang yang bisa mengolah data dan membuat AI, saya tidak tahu use case-nya untuk apa dan datanya apa. Pada akhirnya itu butuh orang dari domain lain yang tahu use case-nya,” ungkap Guntara.

Berpeluang Dikembangkan Lebih Lanjut

Tim AAA berharap KUWERA tidak berhenti sebagai purwarupa kompetisi, tetapi dapat dikembangkan lebih lanjut dengan menggunakan data yang lebih lengkap serta diuji dalam kebutuhan eksplorasi yang sesungguhnya.

Dalam rangkaian ANTAM Hackathon 2026, dewan juri turut membuka kemungkinan pengembangan lebih lanjut terhadap inovasi yang dihasilkan peserta dengan tetap memberikan kredit kepada tim pengembang. Tim AAA berharap KUWERA dapat memperoleh dukungan untuk dikembangkan lebih serius.