Lompat ke konten utama

DEMK

SUMEDANG, multikampus.itb.ac.id – 12 Juni 2026 Mahasiswa Sekolah Arsitektur, Perencanaan, dan Pengembangan Kebijakan (SAPPK) Institut Teknologi Bandung (ITB) Angkatan 2025 menutup rangkaian kegiatan MERAKIT 2026 pada 11 Juni 2026 setelah berlangsung selama sepekan. Mengusung tema “Merakit Kolaborasi, Mewujudkan Kontribusi Nyata” serta tagline “Merakit Berpadu, Berkarya, Berdampak”, kegiatan ini menjadi wadah bagi mahasiswa untuk mengintegrasikan pembelajaran akademik dengan pengabdian kepada masyarakat, penguatan solidaritas angkatan, serta pengembangan kapasitas kepemimpinan.

General Manager MERAKIT 2026, Justin Christian, mengatakan bahwa kegiatan ini dirancang tidak hanya untuk menghasilkan program yang bermanfaat bagi masyarakat, tetapi juga sebagai ruang belajar bagi mahasiswa.

“MERAKIT 2026 bukan sekadar rangkaian program kerja, tetapi juga ruang belajar bagi mahasiswa untuk mengembangkan kemampuan berkolaborasi, memimpin, dan menyelesaikan permasalahan secara bersama-sama. Kami berharap pengalaman ini dapat membentuk mahasiswa yang tidak hanya unggul secara akademik, tetapi juga memiliki kepedulian terhadap masyarakat dan lingkungan,” ujarnya.

Melalui MERAKIT 2026, mahasiswa mengimplementasikan berbagai nilai yang dipelajari di SAPPK, mulai dari perancangan ruang, pembangunan berbasis masyarakat, hingga kolaborasi lintas pemangku kepentingan. Pendekatan tersebut memberikan kesempatan bagi mahasiswa untuk memahami kebutuhan masyarakat secara langsung sekaligus menerjemahkannya ke dalam aksi yang memberikan manfaat nyata.

Salah satu program utama dalam rangkaian MERAKIT 2026 adalah ReInovasi yang diselenggarakan pada 7 Juni 2026 di Lapangan Voli Desa Sayang. Dipimpin oleh Project Manager Ardi Mahardika, program ini berfokus pada revitalisasi fasilitas publik melalui pembuatan mural lingkungan dan kegiatan pembangunan kolaboratif bersama warga.

Melalui kegiatan tersebut, mahasiswa mengaplikasikan pemahaman mengenai penataan ruang sekaligus memperkuat fungsi ruang publik sebagai sarana interaksi sosial masyarakat. Program ReInovasi melibatkan 113 peserta, termasuk 73 peserta nonpanitia yang turut berpartisipasi dalam proses revitalisasi.

Sebelumnya, mahasiswa juga melaksanakan program Terima Kasih Jatinangor (TeJa) pada 5 Juni 2026 di Lapangan Ciawi, Desa Cikeruh. Di bawah koordinasi Project Manager Febenissy Roma Angel Panjaitan, mahasiswa berinteraksi langsung dengan masyarakat melalui edukasi mengenai pengelolaan sampah serta aksi bersih lingkungan di sejumlah titik desa, termasuk Tempat Penampungan Sementara (TPS).

Kegiatan tersebut menjadi sarana bagi mahasiswa untuk mengembangkan empati sekaligus menerapkan pendekatan partisipatif yang menjadi salah satu karakter keilmuan SAPPK. Program TeJa diikuti oleh 142 peserta, dengan 99 peserta berasal dari luar kepanitiaan.

Selain kegiatan pengabdian kepada masyarakat, MERAKIT 2026 juga menghadirkan NGAB Finale sebagai wadah mempererat hubungan antarmahasiswa. Kegiatan yang dipimpin oleh Project Manager Zulfikar Ali Maulana ini diselenggarakan pada 10–11 Juni 2026 di Villa Lagenta, Lembang.

Beragam aktivitas diselenggarakan untuk memperkuat kebersamaan, mulai dari malam api unggun, permainan kelompok, penampilan seni mahasiswa, hingga sesi apresiasi melalui pemberian berbagai nominasi. Kegiatan tersebut bertujuan membangun solidaritas sebelum mahasiswa memasuki tahapan peminatan dan perjalanan akademik yang lebih spesifik. NGAB Finale diikuti oleh 212 peserta dan menjadi program dengan jumlah partisipan terbesar dalam rangkaian MERAKIT 2026.

Secara keseluruhan, MERAKIT 2026 menunjukkan bagaimana mahasiswa mampu mengintegrasikan pembelajaran akademik, kepedulian sosial, dan kolaborasi dalam satu rangkaian kegiatan yang berdampak. Melalui berbagai program tersebut, mahasiswa SAPPK Angkatan 2025 tidak hanya memperoleh pengalaman berorganisasi, tetapi juga menghadirkan kontribusi nyata bagi masyarakat dan lingkungan.

Keberhasilan penyelenggaraan MERAKIT 2026 tidak terlepas dari kolaborasi antara mahasiswa, masyarakat, dan berbagai pihak yang mendukung pelaksanaan kegiatan. Setiap program dirancang melalui proses diskusi, perencanaan, dan koordinasi yang melibatkan berbagai pihak sehingga menjadi pengalaman berharga bagi mahasiswa dalam memahami pentingnya kerja sama lintas disiplin untuk mewujudkan gagasan menjadi aksi nyata.

Di sisi lain, keterlibatan langsung dalam pengabdian kepada masyarakat, revitalisasi ruang publik, serta pengelolaan kegiatan berskala besar turut menjadi proses pembentukan karakter mahasiswa. Pengalaman tersebut diharapkan dapat memperkuat rasa tanggung jawab, empati, kemampuan beradaptasi, serta semangat kolaborasi sebagai bekal dalam perjalanan akademik maupun profesional di masa mendatang.

Institut Teknologi Bandung, Kemenkes, dan BMHS Perkuat Kolaborasi Pendidikan dan Riset Bedah Robotik
JAKARTA, multikampus.itb.ac.id — Institut Teknologi Bandung (ITB) melalui Fakultas Teknik Mesin dan Dirgantara (FTMD) memperkuat kolaborasi dengan Kementerian Kesehatan Republik...
Read More →
Berangkat dari Isu Limbah Tekstil, Tim SITH ITB Raih Medali Emas di National Essay EFC 2026
SEMARANG, multikampus.itb.ac.id – Tim TriPETase dari Sekolah Ilmu dan Teknologi Hayati (SITH) ITB berhasil meraih medali emas pada kategori Energi...
Read More →