DEMK

SURABAYA — Tim mahasiswa Sekolah Bisnis dan Manajemen Institut Teknologi Bandung (SBM ITB) yang tergabung dalam Tim Marsha berhasil meraih Juara 2 dalam ajang International Development Student Conference (IDSC) yang diselenggarakan Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Airlangga (UNAIR).

Tim Marsha beranggotakan Rasikha Zafiraliya, Darrell Rayyan Sanyoto, dan Ahmad Zaki, mahasiswa Program Studi Manajemen SBM ITB angkatan lulus 2026. Kompetisi tingkat nasional ini diikuti oleh tim dari berbagai perguruan tinggi di Indonesia dan menjadi wadah pengembangan gagasan strategis mahasiswa dalam menjawab tantangan pengelolaan keuangan dan layanan digital.

Kompetisi IDSC terdiri atas tiga tahapan. Pada tahap awal, peserta diminta menyelesaikan studi kasus di bidang financial technology dalam bentuk infografis. Tahap berikutnya adalah penyusunan proposal strategis yang menuntut peserta untuk menganalisis permasalahan secara menyeluruh dan merumuskan solusi yang inovatif serta aplikatif.

Memasuki babak final, Tim Marsha mempresentasikan solusi yang telah dikembangkan di hadapan praktisi industri dan mengikuti sesi diskusi berbasis kasus baru. Pada tahap ini, peserta diuji tidak hanya dari sisi kualitas solusi, tetapi juga ketajaman analisis, alur berpikir, serta kemampuan menyampaikan gagasan secara sistematis dan meyakinkan.

Menurut Darrell, tim menemukan sejumlah persoalan yang menjadi titik awal perumusan solusi dari salah satu aplikasi mobile banking, mulai dari market positioning yang lemah, customer acquisition dan migrasi yang tidak efektif, serta suboptimal monetization disertai business impact.

Berdasarkan temuan tersebut, Tim Marsha merumuskan solusi strategis bernama W.I.R.A, sebuah pendekatan yang mengintegrasikan AI assistant untuk menciptakan nilai tambah baru. Solusi ini dirancang untuk menjawab permasalahan secara komprehensif melalui pendekatan yang terukur dan berorientasi pada kebutuhan pengguna.

Secara ringkas, W.I.R.A mengusung personalisasi berbasis kecerdasan buatan, pengalaman pengguna yang end-to-end, serta skema monetisasi yang holistik. Pendekatan yang integratif ini dinilai mampu menutup kesenjangan dari isu-isu utama yang ditemukan dan menjadi salah satu faktor yang mengantarkan Tim Marsha meraih posisi juara.

Selain itu, dalam sesi analisis kasus lanjutan, tim juga menyoroti tantangan pada proses onboarding pengguna usaha mikro serta hambatan dalam menjangkau pengguna secara luas di berbagai wilayah. Berdasarkan analisis tersebut, tim menekankan pentingnya solusi yang sederhana, inklusif, dan mudah diakses agar inovasi digital dapat diadopsi secara optimal.

Dalam proses perumusan solusi, Tim Marsha menghadapi tantangan tersendiri, mulai dari menjaga keseimbangan antara ide yang inovatif dan solusi yang feasible, hingga menyusun alur penyampaian gagasan yang kompleks agar tetap logis dan mudah dipahami. Literasi yang memadai sebelum eksekusi juga menjadi kunci agar solusi yang ditawarkan tetap relevan dan realistis.

Di tengah kesibukan perkuliahan, Tim Marsha juga berbagi kiat dalam mengatur waktu antara akademik dan kompetisi.

“Prinsipnya sederhana, yaitu menyelesaikan kewajiban akademik terlebih dahulu baru melanjutkan progress lomba,” ujar Darrell.

Dengan pendekatan tersebut, mereka mampu meluangkan waktu setiap hari setelah perkuliahan untuk berdiskusi dan menyempurnakan solusi. Menurut mereka, kompetisi ini memberikan dampak signifikan dalam mengasah kemampuan analisis dan berpikir kritis, problem solving, serta meningkatkan kepercayaan diri dalam public speaking, khususnya dalam membangun narasi presentasi.

Bagi Tim Marsha, capaian Juara 2 yang diraih pada 7 November 2025 ini menjadi pengalaman berharga sebagai kemenangan pertama dalam kompetisi. Meski prosesnya diwarnai diskusi panjang, revisi, dan evaluasi berulang, pengalaman tersebut membentuk pola berpikir yang lebih matang untuk menghadapi kompetisi studi kasus di masa mendatang.

“Pelajaran berharga bagi kami adalah pemahaman dalam mengidentifikasi pain point yang paling kritikal, memformulasikan solusi yang relevan, dan menyampaikan sesuatu dengan percaya diri,” ujarnya.