BANDUNG, multikampus.itb.ac.id — Mahasiswa Teknik Fisika Institut Teknologi Bandung (ITB) angkatan 2025 menyelenggarakan pameran karya Voyage 2026 di Lapangan Cinta, Kampus ITB Ganesha, Sabtu (12/9/2026). Terbuka gratis untuk masyarakat umum, pameran ini menampilkan berbagai karya mahasiswa yang berangkat dari upaya memahami persoalan di masyarakat dan mengembangkan gagasan untuk menjawabnya.
Project Officer Voyage 2026, Jonathan Diego, mengatakan kegiatan tersebut merupakan bagian dari proses belajar mahasiswa untuk menerapkan pengetahuan yang diperoleh di ruang kuliah ke dalam karya yang dapat memberikan manfaat bagi masyarakat.
Menurutnya, nama Voyage yang berarti perjalanan menggambarkan proses mahasiswa dalam mengenali persoalan, memahami kebutuhan masyarakat, hingga mengembangkan gagasan dan solusi. Pameran menjadi salah satu tahap akhir dari perjalanan belajar sekaligus proses tumbuh bersama mahasiswa Teknik Fisika angkatan 2025.
“Voyage 2026 ingin menunjukkan kepada masyarakat bahwa perubahan dimulai dari kesadaran diri sendiri atas suatu permasalahan dan suatu ide,” ujar Jonathan.
Cakupan keilmuan Teknik Fisika yang luas turut mendorong mahasiswa untuk bersikap fleksibel dan adaptif dalam menganalisis berbagai persoalan. Hal tersebut tercermin melalui keragaman karya yang dikembangkan setiap kelompok berdasarkan permasalahan yang mereka pilih.
Dalam proses pengembangannya, mahasiswa memanfaatkan berbagai perangkat bantu berpikir (thinking tools) serta memadukan unsur mekanikal, elektrikal, maupun pemrograman sesuai kebutuhan masing-masing karya.
Melalui karya-karya tersebut, mahasiswa ingin menunjukkan bahwa upaya menghadirkan perubahan tidak selalu harus dimulai dari teknologi yang sangat canggih. Kepekaan terhadap persoalan di sekitar, disertai kemauan untuk belajar dan menyempurnakan gagasan, dapat menjadi langkah awal untuk menghasilkan solusi.
“Dari permasalahan tersebut, jembatan menuju solusi dibangun dari tekad untuk belajar, iterasi, evaluasi, dan beraksi,” tuturnya.
Agar gagasan yang dikembangkan setiap kelompok dapat dipahami oleh pengunjung dengan beragam latar belakang, panitia menetapkan standar presentasi yang menekankan interaksi dan penyampaian yang ramah. Pendekatan tersebut diterapkan agar pengunjung tidak hanya menikmati karya yang dipamerkan, tetapi juga dapat memahami persoalan dan pesan yang ingin disampaikan di balik setiap karya.
Persiapan Voyage 2026 berlangsung selama sekitar tiga minggu. Jonathan mengatakan salah satu tantangan utama dalam persiapan tersebut adalah menyelaraskan visi dan ritme kerja di tengah keberagaman karakter mahasiswa dalam satu angkatan.
Untuk mengatasinya, mahasiswa mengadakan pertemuan tatap muka setiap minggu. Pertemuan tersebut dimanfaatkan untuk menyamakan pemahaman, mengoordinasikan pekerjaan, serta memastikan setiap bagian kegiatan dapat berjalan sesuai rencana.
Upaya tersebut turut mendukung pelaksanaan pameran yang mendapat respons positif dari pengunjung. Pada hari penyelenggaraan, Voyage 2026 mencatat 529 pengunjung, melampaui target awal panitia sebanyak 500 orang.
Jonathan mengatakan pengunjung juga memberikan tanggapan positif terhadap pemaparan di setiap stan. Standar penyampaian yang diterapkan panitia membuat presentasi di setiap stan dinilai nyaman untuk diikuti.
Ke depan, pengalaman dan evaluasi penyelenggaraan Voyage 2026 akan didokumentasikan secara sistematis. Dokumentasi tersebut diharapkan dapat menjadi bahan pembelajaran bagi penyelenggaraan kegiatan serupa oleh angkatan lainnya, termasuk di jurusan maupun fakultas lain.



