Lompat ke konten utama

DEMK

BANDUNG, multikampus.itb.ac.id – Empat mahasiswa Institut Teknologi Bandung (ITB) yang tergabung dalam Tim H Capital meraih Juara 1 Business Case CompetitionĀ sekaligusĀ Best PresentationĀ pada “The 15th StudentsXCEOs Grand Summit 2026” di Universitas Pendidikan Indonesia (UPI), Bandung, Sabtu (25/7/2026). Mereka menawarkan strategi transisi hijau melalui pengembanganĀ Sustainable Marine FuelĀ (SMF) yang dinilai lebih realistis diterapkan dengan memanfaatkan infrastruktur kilang yang telah tersedia.

Gagasan tersebut berangkat dari persoalan yang dihadapi industri dalam menjalankan transisi energi, mulai dari kebutuhan investasi yang besar hingga ketidakpastian regulasi bahan bakar berkelanjutan. Melalui pendekatanĀ co-processing, tim mengusulkan solusi yang berpotensi membantu perusahaan energi menekan risiko investasi sekaligus membuka peluang pengurangan emisi dan pengembangan bisnis baru. Gagasan ini relevan karena transformasi industri energi menuju sistem yang lebih rendah karbon turut menentukan keberlanjutan sektor transportasi dan daya saing industri Indonesia.

Tim H Capital beranggotakan Glenn Panna Saputra dan Arsyad Fathurrahman dari Program Studi Manajemen Rekayasa angkatan 2023 serta Axel Leonardo Saragi dan Samuel Gamma Budiman dari Program Studi Teknik Industri angkatan 2023.

Berani Menawarkan Jalur Transisi yang Berbeda

Business Case CompetitionĀ tersebut mengusung studi kasus mengenai transisi energi berkelanjutan yang disusun oleh firma konsultan global Roland Berger. Kompetisi tersebut menantang peserta menyusun strategi bisnis bagi konglomerasi multibisnis fiktif Maung Asia dalam menentukan langkah awal transformasi hijau, termasuk mengevaluasi kelayakan adopsiĀ Sustainable Aviation FuelĀ (SAF) sebagai bagian dari strategi dekarbonisasi perusahaan.

Berbeda dengan sebagian besar finalis yang merekomendasikan adopsi SAF, Tim H Capital mengambil pendekatan lain. Berdasarkan analisis terhadap kapabilitas perusahaan, risiko investasi, dan kesiapan pasar, mereka menyimpulkan bahwa langkah awal yang lebih realistis adalah mengembangkanĀ Sustainable Marine FuelĀ melalui jalur produksiĀ Hydrotreated Vegetable OilĀ (HVO) berbahan bakuĀ Crude Palm OilĀ (CPO).

ā€œKami sadar keputusan ini cukup berisiko karena sebagian besar tim memilih menjawab ā€˜ya’ terhadap adopsi SAF. Namun, berdasarkan analisis yang kami lakukan, kami melihat masih ada peluang yang lebih menarik dengan risiko yang lebih terukur melalui pengembanganĀ Sustainable Marine Fuel,ā€ kata Glenn.

Solusi tersebut tidak berhenti sebagai gagasan. Tim menyusun peta jalan implementasi dari tahun 2030 hingga setelah 2050 yang dibagi ke dalam lima aspek utama, yakni proses, fasilitas produksi, mesin, sumber daya manusia, dan sumber pendapatan. Pendekatan tersebut dirancang agar transformasi dapat dilakukan secara bertahap sesuai dengan kondisi dan kapabilitas perusahaan.

Memanfaatkan Infrastruktur yang Sudah Ada

Tim mengusulkan penggunaan teknologiĀ co-processing, yakni mengolah CPO yang telah melalui tahapĀ pretreatmentĀ ke dalamĀ hydrotreaterĀ pada kilang yang telah beroperasi. Melalui proses tersebut, CPO diproses bersama fraksi minyak bumi untuk menghasilkan HVO yang memiliki karakteristik setara bahan bakar diesel.

Pendekatan tersebut memungkinkan perusahaan memanfaatkan infrastruktur kilang yang sudah tersedia sehingga tidak perlu langsung membangun fasilitas produksi baru.

ā€œKami memilihĀ co-processingĀ dibanding membangun pabrik khusus karena modal yang dibutuhkan jauh lebih kecil, cukup dengan menambahkan tangki CPO dan unitĀ pretreatment. Selain itu, teknologi ini dapat diterapkan lebih cepat karena memanfaatkan aset yang sudah ada, serta bersifatĀ reversibleĀ sehingga apabila pasar tidak berkembang sesuai harapan, kilang dapat dikembalikan ke operasi minyak bumi normal,ā€ jelas Gamma.

Gagasan tersebut berangkat dari kondisi transisi energi di Indonesia yang masih menghadapi berbagai tantangan regulasi. Menurut tim, ketidakjelasan kebijakan mengenai bahan bakar berkelanjutan membuat banyak pelaku industri menunda investasi karena tingginya ketidakpastian dalam mengambil keputusan bisnis. Kondisi tersebut berpotensi menghambat percepatan transisi energi sekaligus mengurangi daya saing Indonesia dalam pengembangan industri hijau.

ā€œKami berharap inovasi bahan bakar hijau untuk transportasi laut dapat menjadiĀ the new golden standard, khususnya di Asia Tenggara. Selain mendukung pengurangan emisi, solusi ini juga dapat membuka peluang bisnis baru bagi perusahaan energi untuk bertransformasi secara realistis sesuai kapabilitas yang dimiliki,ā€ ujar Axel.

Satu Minggu Menyusun Strategi

Di balik keberhasilan tersebut, tim hanya memiliki waktu sekitar satu minggu untuk menyusun solusi sekaligus mempersiapkan presentasi. Seluruh proses dilakukan secara daring dengan diskusi intensif, validasi data berulang, serta saling memberikan masukan agar alur analisis tetap konsisten.

Tim juga memberikan perhatian besar terhadap cara penyampaian gagasan. Mereka mengubah struktur presentasi yang umum digunakan dalam kompetisi mahasiswa menjadi format yang lebih menyerupai presentasi konsultan profesional sehingga solusi dapat disampaikan secara lebih terstruktur dan mudah dipahami oleh juri.

ā€œMotto kami adalah ā€˜Bring the emotions to the table’. Kami ingin menghadirkan presentasi yang tidak hanya kuat secara analisis, tetapi juga mampu membuat juri tertarik, terkesan, dan memahami cerita di balik solusi yang kami tawarkan,ā€ ujar Glenn.

Bagi Tim H Capital, kemenangan ini menunjukkan bahwa keberanian menawarkan sudut pandang berbeda perlu didukung analisis yang kuat, pertimbangan risiko, dan solusi yang realistis. Mereka pun berpesan kepada mahasiswa yang ingin mengikuti kompetisi serupa agar tidak takut mengeksplorasi pendekatan baru, terbuka terhadap kritik, dan mampu mempertahankan gagasan dengan data.

ā€œBe bold, stay curious, and don’t settle for less,ā€ kata Arsyad.