Lompat ke konten utama

DEMK

BANDUNG, multikampus.itb.ac.id – Menempuh pendidikan doktor bukan sekadar tentang menyelesaikan disertasi dan menghasilkan publikasi ilmiah. Bagi Dr. St Mardiana, M.Si., perjalanan tersebut menjadi proses panjang untuk belajar menyeimbangkan berbagai peran sebagai istri, ibu, peneliti, dan dosen. Di tengah proses penelitian, ia menjalani kehamilan, melahirkan, sekaligus menyelesaikan studi doktor di Institut Teknologi Bandung (ITB) dengan menghasilkan 16 publikasi ilmiah bereputasi.

Perjalanan akademik Mardiana bermula dari Pulau Selayar, Sulawesi Selatan. Setelah menyelesaikan pendidikan sarjana di Universitas Negeri Makassar, ia memutuskan merantau ke Bandung untuk melanjutkan studi magister dan doktor di Program Studi Kimia ITB.

Keputusan tersebut sempat mendapat penolakan dari orang tuanya karena harus menempuh pendidikan jauh dari kampung halaman. Namun, restu orang tua dan dukungan keluarga akhirnya menguatkan langkah Mardiana untuk memilih ITB, yang menurutnya memiliki reputasi unggul di bidang kimia.

Selama menempuh pendidikan di ITB, Mardiana memperoleh dukungan pembiayaan melalui Beasiswa LPDP saat studi magister. Ia kemudian melanjutkan studi doktor dengan dukungan Ganesha Talent Assistantship (GTA) serta beasiswa dari laboratorium.

Setelah memulai studi doktor pada Januari 2022, perjalanan panjang tersebut akhirnya mencapai salah satu titik penting ketika Mardiana menjalani sidang doktor pada 9 Juli 2026.

“Deg-degan, tetapi juga lega akhirnya bisa menyelesaikan semuanya,” tuturnya mengenang momen tersebut.

Menjalani Perjalanan Doktor dengan Beragam Peran
Bagi Mardiana, perjalanan doktor tidak hanya diisi dengan eksperimen di laboratorium dan penyusunan disertasi. Pada awal masa studi doktor, ia menjalani kehamilan hingga melahirkan anak. Di tengah perjalanan tersebut, ia juga dipercaya menjadi Dosen Program Studi Kimia, Universitas Sumatera Utara (USU).

Menjalani berbagai peran secara bersamaan membuat perjalanan studinya menjadi lebih kompleks. Ia perlu membagi waktu antara keluarga, penelitian, pekerjaan, dan penyelesaian studi.

Dari proses tersebut, Mardiana belajar bahwa menyelesaikan pendidikan doktor bukan hanya tentang mencapai target akademik, tetapi juga tentang kemampuan untuk terus bertahan dan melangkah ketika menghadapi berbagai tantangan.

“Perjalanan S3 ternyata bukan hanya tentang meraih gelar, tetapi bagaimana kita tetap bertahan dari apa yang sudah kita mulai dan terus melangkah,” ujarnya.

Kesibukan sebagai mahasiswa doktor, peneliti, ibu, istri, sekaligus dosen juga mengajarkannya pentingnya menentukan prioritas. Mardiana menyadari bahwa tidak semua hal harus dikerjakan sendiri. Ia belajar mendelegasikan pekerjaan yang memungkinkan dan memusatkan energi pada hal-hal yang membutuhkan perhatian utamanya.

Mengembangkan Katalis untuk Mengolah Limbah Plastik
Selama menempuh studi doktor di Kelompok Keahlian Kimia Fisik dan Anorganik ITB, Mardiana menekuni penelitian mengenai sintesis material katalis berbasis zeolit hibrida. Penelitian tersebut berangkat dari persoalan meningkatnya produksi limbah plastik, khususnya plastik jenis low-density polyethylene (LDPE) yang sulit terurai dan masih menjadi tantangan bagi lingkungan.

Menurut Mardiana, plastik pada dasarnya tersusun atas rantai hidrokarbon yang masih memiliki potensi untuk dimanfaatkan kembali. Melalui pengembangan katalis berbasis zeolit, limbah plastik dapat dikonversi menjadi produk hidrokarbon bernilai tinggi, seperti bahan bakar, dengan kebutuhan energi yang lebih rendah dibandingkan proses konvensional.

Ketertarikannya terhadap zeolit sendiri telah tumbuh sejak lama. Ia melihat material tersebut memiliki karakteristik yang menarik karena dapat dimodifikasi sesuai dengan kebutuhan dan masih memiliki banyak peluang untuk dikembangkan.

“Zeolit itu material yang sangat menarik. Masih banyak yang bisa dikaji dan dikembangkan. Saya merasa penelitian ini bisa memberikan dampak, terutama dalam pengolahan sampah menjadi sesuatu yang lebih bermanfaat,” jelasnya.

Konsisten Menghasilkan Publikasi Ilmiah

Konsistensi Mardiana selama menjalani studi doktor juga tercermin melalui 16 publikasi ilmiah bereputasi yang berhasil dihasilkannya. Capaian tersebut terdiri atas tiga book chapter yang diterbitkan oleh Wiley dan Elsevier serta 13 artikel ilmiah.

Sebagian besar publikasi tersebut merupakan luaran penelitian disertasinya mengenai pengembangan material zeolit sebagai katalis. Sementara itu, publikasi lainnya berasal dari penelitian yang masih berada dalam bidang zeolit dan katalis.

Bagi Mardiana, capaian tersebut tidak semata-mata tentang jumlah publikasi. Lebih dari itu, publikasi tersebut menjadi bagian dari proses belajar, eksplorasi keilmuan, dan konsistensi yang ia bangun selama menjalani pendidikan doktor.

Dukungan Keluarga dan Pembimbing
Di balik perjalanan panjang tersebut, Mardiana menyadari bahwa pencapaiannya tidak terlepas dari dukungan orang-orang di sekitarnya.

“Saya tidak bisa menjalani semuanya sendiri,” katanya.

Anak, suami, orang tua, dan keluarga besar menjadi support system yang terus memberikan semangat di setiap tahap perjalanan studinya. Dukungan juga datang dari lingkungan akademik, khususnya tim promotor yang terdiri atas Prof. Ismunandar, Dr. Ir. Grandprix Thomryes Marth Kadja, M.Si., dan Prof. I Made Arcana, M.S.

Menurut Mardiana, ketiga promotor tersebut tidak hanya memberikan arahan akademik, tetapi juga membangun lingkungan belajar yang positif. Secara khusus, Dr. Ir. Grandprix Thomryes Marth Kadja, M.Si., banyak mendampinginya ketika ia mulai merasa down atau mengalami burnout.

“Ketika saya down, saya beruntung memiliki dosen pembimbing yang selalu berpikiran positif, memberikan dukungan, dan menciptakan lingkungan yang membuat saya bisa bangkit lagi. Tanpa support system saya, saya tidak tahu apakah bisa menyelesaikan S3 ini,” ungkapnya.

Ketika rasa lelah datang, Mardiana memiliki cara sederhana untuk mengembalikan semangat. Ia menikmati makanan, berbincang dengan orang-orang terdekat, atau menuliskan isi pikirannya melalui journaling. Menurutnya, menulis membantunya melihat persoalan dengan lebih jernih sekaligus menyusun kembali prioritas yang perlu dikerjakan.

ITB dan Budaya Belajar yang Membekas
Pengalaman belajar di ITB juga meninggalkan kesan mendalam bagi Mardiana. Ketika pertama kali datang ke Bandung untuk menempuh studi magister pada 2018, ia merasakan budaya akademik yang berbeda dibandingkan pengalaman sebelumnya.

“Saya melihat mahasiswa di ITB sangat terbiasa datang ke kampus, berdiskusi, bahkan membahas materi kuliah di tempat berkumpul. Di awal saya merasa harus belajar lebih keras untuk bisa mengikuti ritme tersebut,” kenangnya.

Lingkungan akademik yang kuat tersebut kemudian menjadi salah satu motivasinya untuk terus berkembang sebagai peneliti. Suasana kampus yang rindang, aktivitas di laboratorium, proses bimbingan bersama dosen, hingga waktu yang dihabiskan di perpustakaan menjadi bagian dari pengalaman yang akan ia rindukan setelah menyelesaikan studi.

Melanjutkan Pengabdian melalui Pendidikan dan Penelitian
Setelah resmi menyandang gelar doktor, Mardiana berkomitmen melanjutkan pengabdiannya sebagai Dosen Program Studi Kimia, Universitas Sumatera Utara. Ia ingin terus mengembangkan penelitian, mengajar mahasiswa, serta membawa ilmu dan pengalaman yang diperoleh selama belajar di ITB agar dapat memberikan manfaat yang lebih luas bagi masyarakat.

Di akhir perbincangan, Mardiana membagikan pesan bagi mahasiswa dan siapa pun yang sedang berjuang mengejar cita-cita.

“Jalani saja. Selalu yakin bahwa semuanya akan ada ujungnya. Kalau niatnya baik, Tuhan pasti akan membantu.”

Ia juga menyampaikan rasa terima kasih kepada ITB yang telah menjadi tempatnya bertumbuh sebagai peneliti. Apresiasi khusus disampaikannya kepada Dr. Ir. Grandprix Thomryes Marth Kadja, M.Si., yang dinilainya telah memberikan dukungan selama menjalani studi magister hingga doktor.

“Banyak sekali yang saya pelajari selama di ITB. Terima kasih kepada ITB dan Kadja Lab di bawah pimpinan Dr. Ir. Grandprix Thomryes Marth Kadja, M.S., yang selalu memberikan dukungan selama saya menjalani studi,” tuturnya.

Perjalanan Mardiana menjadi gambaran bahwa pencapaian akademik tidak selalu ditempuh melalui jalan yang sederhana. Dengan dukungan keluarga, lingkungan akademik, serta kemauan untuk terus belajar dan melangkah, berbagai peran dan tantangan dapat dijalani beriringan menuju satu tujuan: terus bertumbuh dan memberikan manfaat melalui ilmu pengetahuan.